Bantulah Sesama Untuk Kemulian Bersama

Mengabaikan Hukum Allah

Posted on: 1 Desember 2010


HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang sampai sekarang merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan mematikan, bahkan menempati urutan keempat penyakit mematikan. Menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali tahun 1986 di Bali. Departemen Kesehatan RI memperkirakan, 19 juta orang saat ini berada pada risiko terinfeksi HIV. Adapun berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.Adapun berdasarkan cara penularan, 75 hingga 85 persen HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan seks, 5-10 persen melalui homoseksual, 5-10 persen akibat alat suntik yang tercemar terutama pengguna narkoba jarum suntik dan 3-5 persen tertular lewat transfusi darah.
Berbagai penelitian dan pencegahan telah banyak dilakukan. Namun, penyakit ini bahkan semakin meningkat. Jika kita lihat di kota-kota besar bahkan di daerah memiliki angka yang tinggi terhadap angka penderita HIV/AIDS. Berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan dari 148 negara yang tergabung dalam WHO untuk Program Pencegahan AIDS pada 1 Desember 1988 di London, Inggris. Disinilah bermulanya peringatan HIV/AIDS sedunia yang selalu diperingati pada tanggal 1 Desember. Di seluruh dunia selalu memperingati hari AIDS, baik negara bahkan kota-kota besar dan juga daerah-daerah selalu memperingatinya.
Di antara program yang masuk dalam area pencegahan pada Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS adalah: Kondomisasi, Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah koordinasi KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional). Inilah langkah yang selama ini ditempuh oleh pemerintah, hal ini dianggap sebagai upaya tepat dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS.
Kondomisasi jelas telah gagal mencegah penyebaran HIV/AIDS, namun malah menumbuhsuburkan wabah penyakit HIV/AIDS. Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (US:CDC: United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat no. 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.
Adapun pemberian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba jarum suntik agar terhindar dari penularan HIV/AIDS juga merupakan strategi yang sangat tidak jelas. Memberikan jarum suntik meskipun steril, di tengah-tengah jeratan mafia narkoba sama saja menjerumuskan anggota masyarakat kepada penyalahgunaan narkoba. Apalagi para pengguna narkoba ini tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas akibat kehilangan kontrol, meskipun mereka telah menggunakan jarum suntik steril.
Semuanya terjadi karena berawal dari budaya pergaulan bebas dan perilaku menyimpang. Inilah yang terjadi ketika manusia bebas melakukan apapun, tidak ada aturan berarti yang bias mengikat. Ini terjadi ketika hukum Islam yang berasal dari Allah itu dicamppakkan dan ditinggalkan. Dan hukum manusialah yang digunakan, dimana seorang manusia pada hakikatnya lemah, terbatas, dan tergantung. Maka walaupun berbagai pencegah dilakukan dengan pembagian kondom, jarum suntik, dan berbagai kampanye tentang bahaya AIDS ini tidak akan mampu mencegah, karena ini terkait sistem yang diterapkan dan dilaksanakan dalam suatu negara.
Allah SWT, yang melarang seks bebas (perzinaan), kemaksiatan dan penggunaan khamr (termasuk narkoba). Tentang larangan zina, Allah SWT berfirman:”Janganlah kalian mendekati zina karena zina itu perilaku keji dan jalan yang amat buruk “(QS al-Isra’ [17]: 32).
Allah SWT juga memberlakukan hukuman yang amat keras bagi pelaku zina, yakni hukuman cambuk (Lihat: QS an-Nur [24]: 2). Nabi saw. bahkan memberlakukan hukuman rajam sampai mati atas pezina yang pernah menikah. Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Selain memang barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif dalam penyebarluasan HIV/AIDS.
Ketika hukum manusia yang berlaku maka hukum peradilan dapat dibeli dengan uang dan kekuasaan, bahkan hukum yang diterapkan membuat pelakunya nyaman dengan kondisi bui tempat mereka ditahan. Hukum sekarang yang diterapkan berakar dari system sekuler kapitalis, dimana agama dipisahkan dari kehidupan dan ditampikkan keberadaannya.
Maka berpikir tentang perubahan, maka yang harus dilakukan adalah mengganti sistem negara dengan sistem Islam dalam naungan Khilafah. Karena masalah yang ada di negeri ini tidak hanya AIDS tetapi lebih dari itu politik, ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya juga dalam kondisi terpuruk. Sistem Islam telah terbukti berhasil mensejahterakan umat. Karena jika kita yakin Allah sebagai Pencipta maka kita juga akan yakin dan wajib meyekini Allah sebagai Pengatur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

%d blogger menyukai ini: