Bantulah Sesama Untuk Kemulian Bersama

Belajar Membaca Teks Arab

Posted on: 30 November 2010


الثلجُ
تربَّــعَ الثلجُ عَلَى ُقمّةِ الْجَبَلِ، وَأَلْقَى نَظْرَةً إِلىَ اْلأرَاضِي اْلوَاطِئَةِ، ثُـمَّ ضَحِكَ مَغْرُوْراً، وَقَالَ:
-أَنَا فَوقَ الجميع:
نادَتْهُ رَبْوةٌ قريبة:
-أيُّها الثلجُ العظيم، إنني ظامئة فأغثْني .
-لن أغادر القمة، فابحثي عن غيري .
-في جوفي بذورٌ صغيرة، ستموتُ من العطش.
-فلْتمتْ
-إذا ماتَتْ سيموتُ الربيع.
-فلْيمتْ .
حزنتِ الربوةُ كثيراً، فقال لها النهرُ الطيّبُ:
-لا تحزني أيتها الربوة الصغيرة، سأمنحك مياهي، حتى آخرِ قطرة.
فرحَتْ الربوةُ، وبدأَتْ ترشفُ من النهر، وتُرضعُ بذورها الصغيرة.
بعد أيام..
قلّتْ مياهُ النهر، وكاد يجفُّ ويموتُ، فذهبَ إلى الثلج، وقال:
-أيها الثلجُ الجليل، لقد شحّتْ مياهي، فجئْتُ طالباً عَوْنك .
-ولمَ تطلبُ العَوْنَ منِّي؟!
-لأنّكَ قريبي
-كيف؟!
-أنتَ ماءٌ، وأنا ماء
-لا أشبهكَ، ولا تشبهني، فابتعدْ عنّي. انصرف النهرُ يائساً حزيناً..
سمعَتِ الشمسُ حوارهما، فغضبَتْ من غرور الثلج، وزفرَتْ زفرةً حارة، ثم سلّطَتْ أشعتها الحامية على الثلج، فأخذ يذوبُ شيئاً فشيئاً، ليرجعَ ماءً، كما كان، فقال مدهوشاً:
-يا للعجب.. إنني أتحوّلُ إلى ماء!
استمرّ الثلجُ يسيل، قطرات تتبعها قطرات، كأنها دموع غزيرة، يذرفها الثلج، وهو ينسحب من القمة، وينزل رويداً رويداً.. وحينما وصل إلى الأراضي الواطئة، ساحَ في كلّ اتجاه، هائماً على وجهه، لا يدري أين يستقرُّ، فهرع إلى النهر الطيّبِ، واستنجدَ به ليؤويه، فقال النهر:
-أهلاً بكَ يا عزيزي:
وسرعان ما احتضنه بين ضفّتيهِ، فاتّحدَ ماءُ النهر، وماءُ الثلج..
وسار النهرُ دفّاقاً غزيراً.
يجودُ بمائهِ، وهو طروب.
فارتوتِ الربوةُ، وارتوى السهل.
ونَمَتِ البذورُ، واستطالَتْ سوقها
ثم ودَّعَتْ جوفَ الأرض، وخرجَتْ إلى النور.
فوُلِدَ الربيع.. جنَّة ألوانٍ وعطور..

Salju
Ada setumpuk salju yang tinggal di atas puncak sebuah gunung. Ia melemparkan pandangannya ke arah dataran yang rendah, kemudian ia tertawa dengan sombongnya sambil berkata:
”Aku berada di atas segalanya”
Sebuah bukit kecil memangilnya:
”Wahai salju yang agung! Aku sungguh kehausan. Tolonglah aku!”
”Aku tidak akan pernah meninggalkan puncak gunung ini. Kau cari yang lain saja!”.
”Di dalam perutku ada banyak benih yang masih kecil, mereka akan mati kehausan”
”Biarkan saja mereka mati!”
”Jika mereka mati, musim semi pun akan ikut mati”
”Ya sudah, mati saja!”
Bukit itu merasa sangat sedih, kemudian sebuah sungai yang baik berkata kepadanya:
”Jangan sedih wahai bukit kecil, aku akan rnemberikan airku kepadamu sampai tetes yang terakhir”
Bukit kecil itu merasa senang, lalu ia menyerap air sungai dengan lahap dan meminumkannya kepada benih-benih yang ada di dalam perutnya.
Setelah beberapa hari, air sungai menjadi sangat sedikit dan nyaris kering. Lalu, sungai itu pergi menemui salju dan berkata:
”Salju yang mulia! Airku telah habis, karena itulah aku datang kemariuntuk memohon bantuanmu”
”Kenapa kau minta bantuan kepadaku?!”
”Karena kau adalah saudaraku”
”Apa? Aku saudaramu?”
”Tentu saja, sebab kau adalah air dan akupun air”
“Aku tidak sama seperti kamu dan kamupun tidak sama sepertiku. Menjauhlah dariku…! Pergi…!”
Akhirnya, sungai itu pergi dengan sedih dan putus asa.
Matahari mendengar percakapan mereka. Ia sangat marah terhadap kesombongan salju, lalu ia menghembuskan nafas panjang yang panas dan mengarahkan sinarnya yang bagai tungku api ke arah salju. Lambat laun, salju itupun mulai mencair sedikit demi sedikit. Ia kembali menjadi air seperti sediakala. Ia sangat terkejut dan berkata:
”Oh ini tidak mungkin..?! Aku berubah menjadi air..!”
Tetes demi tetes seperti mata air yang melimpah sedang mengalir meninggalkan puncak gunung, turun secara berlahan-lahan, dan ketika ia telah sampai di dataran rendah, ia mengalir ke segala arah. Kebingungan jelas tampak pada wajahnya. Ia tidak tahu dimana harus menetap. Akhirnya ia pergi ke tempat sungai yang baik dan memohon agar ia boleh tinggal bersamanya. Sungai yang baik itu berkata:
”Selamat datang kuucapkan untukmu wahai saudaraku”
Lalu, kedua tepian sungaipun langsung memeluknya. Air sungai dan salju itu kini menyatu.
Keadan air sungai itu kembali membaik dan ia merasa sangat senang. Bukit kecil dan dataran rendahpun bisa minum sepuasnya. Benih-benih telah tumbuh dan terus berkembang. Ia mengucapkan salam perpisahan pada perut bumi lalu menyebar ke sekitar alam. Musim semi pun datang. Benar-benar sebuah surga dunia yang penuh warna den aroma wewangian.
الثلجُ
تربَّــعَ الثلجُ عَلَى ُقمّةِ الْجَبَلِ، وَأَلْقَى نَظْرَةً إِلىَ اْلأرَاضِي اْلوَاطِئَةِ، ثُـمَّ ضَحِكَ مَغْرُوْراً، وَقَالَ:
-أَنَا فَوقَ الجميع:
نادَتْهُ رَبْوةٌ قريبة:
-أيُّها الثلجُ العظيم، إنني ظامئة فأغثْني .
-لن أغادر القمة، فابحثي عن غيري .
-في جوفي بذورٌ صغيرة، ستموتُ من العطش.
-فلْتمتْ
-إذا ماتَتْ سيموتُ الربيع.
-فلْيمتْ .
حزنتِ الربوةُ كثيراً، فقال لها النهرُ الطيّبُ:
-لا تحزني أيتها الربوة الصغيرة، سأمنحك مياهي، حتى آخرِ قطرة.
فرحَتْ الربوةُ، وبدأَتْ ترشفُ من النهر، وتُرضعُ بذورها الصغيرة.
بعد أيام..
قلّتْ مياهُ النهر، وكاد يجفُّ ويموتُ، فذهبَ إلى الثلج، وقال:
-أيها الثلجُ الجليل، لقد شحّتْ مياهي، فجئْتُ طالباً عَوْنك .
-ولمَ تطلبُ العَوْنَ منِّي؟!
-لأنّكَ قريبي
-كيف؟!
-أنتَ ماءٌ، وأنا ماء
-لا أشبهكَ، ولا تشبهني، فابتعدْ عنّي. انصرف النهرُ يائساً حزيناً..
سمعَتِ الشمسُ حوارهما، فغضبَتْ من غرور الثلج، وزفرَتْ زفرةً حارة، ثم سلّطَتْ أشعتها الحامية على الثلج، فأخذ يذوبُ شيئاً فشيئاً، ليرجعَ ماءً، كما كان، فقال مدهوشاً:
-يا للعجب.. إنني أتحوّلُ إلى ماء!
استمرّ الثلجُ يسيل، قطرات تتبعها قطرات، كأنها دموع غزيرة، يذرفها الثلج، وهو ينسحب من القمة، وينزل رويداً رويداً.. وحينما وصل إلى الأراضي الواطئة، ساحَ في كلّ اتجاه، هائماً على وجهه، لا يدري أين يستقرُّ، فهرع إلى النهر الطيّبِ، واستنجدَ به ليؤويه، فقال النهر:
-أهلاً بكَ يا عزيزي:
وسرعان ما احتضنه بين ضفّتيهِ، فاتّحدَ ماءُ النهر، وماءُ الثلج..
وسار النهرُ دفّاقاً غزيراً.
يجودُ بمائهِ، وهو طروب.
فارتوتِ الربوةُ، وارتوى السهل.
ونَمَتِ البذورُ، واستطالَتْ سوقها
ثم ودَّعَتْ جوفَ الأرض، وخرجَتْ إلى النور.
فوُلِدَ الربيع.. جنَّة ألوانٍ وعطور..

Salju
Ada setumpuk salju yang tinggal di atas puncak sebuah gunung. Ia melemparkan pandangannya ke arah dataran yang rendah, kemudian ia tertawa dengan sombongnya sambil berkata:
”Aku berada di atas segalanya”
Sebuah bukit kecil memangilnya:
”Wahai salju yang agung! Aku sungguh kehausan. Tolonglah aku!”
”Aku tidak akan pernah meninggalkan puncak gunung ini. Kau cari yang lain saja!”.
”Di dalam perutku ada banyak benih yang masih kecil, mereka akan mati kehausan”
”Biarkan saja mereka mati!”
”Jika mereka mati, musim semi pun akan ikut mati”
”Ya sudah, mati saja!”
Bukit itu merasa sangat sedih, kemudian sebuah sungai yang baik berkata kepadanya:
”Jangan sedih wahai bukit kecil, aku akan rnemberikan airku kepadamu sampai tetes yang terakhir”
Bukit kecil itu merasa senang, lalu ia menyerap air sungai dengan lahap dan meminumkannya kepada benih-benih yang ada di dalam perutnya.
Setelah beberapa hari, air sungai menjadi sangat sedikit dan nyaris kering. Lalu, sungai itu pergi menemui salju dan berkata:
”Salju yang mulia! Airku telah habis, karena itulah aku datang kemariuntuk memohon bantuanmu”
”Kenapa kau minta bantuan kepadaku?!”
”Karena kau adalah saudaraku”
”Apa? Aku saudaramu?”
”Tentu saja, sebab kau adalah air dan akupun air”
“Aku tidak sama seperti kamu dan kamupun tidak sama sepertiku. Menjauhlah dariku…! Pergi…!”
Akhirnya, sungai itu pergi dengan sedih dan putus asa.
Matahari mendengar percakapan mereka. Ia sangat marah terhadap kesombongan salju, lalu ia menghembuskan nafas panjang yang panas dan mengarahkan sinarnya yang bagai tungku api ke arah salju. Lambat laun, salju itupun mulai mencair sedikit demi sedikit. Ia kembali menjadi air seperti sediakala. Ia sangat terkejut dan berkata:
”Oh ini tidak mungkin..?! Aku berubah menjadi air..!”
Tetes demi tetes seperti mata air yang melimpah sedang mengalir meninggalkan puncak gunung, turun secara berlahan-lahan, dan ketika ia telah sampai di dataran rendah, ia mengalir ke segala arah. Kebingungan jelas tampak pada wajahnya. Ia tidak tahu dimana harus menetap. Akhirnya ia pergi ke tempat sungai yang baik dan memohon agar ia boleh tinggal bersamanya. Sungai yang baik itu berkata:
”Selamat datang kuucapkan untukmu wahai saudaraku”
Lalu, kedua tepian sungaipun langsung memeluknya. Air sungai dan salju itu kini menyatu.
Keadan air sungai itu kembali membaik dan ia merasa sangat senang. Bukit kecil dan dataran rendahpun bisa minum sepuasnya. Benih-benih telah tumbuh dan terus berkembang. Ia mengucapkan salam perpisahan pada perut bumi lalu menyebar ke sekitar alam. Musim semi pun datang. Benar-benar sebuah surga dunia yang penuh warna den aroma wewangian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

%d blogger menyukai ini: