Bantulah Sesama Untuk Kemulian Bersama

Arsip Penulis


Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahualaihi Wassalam.

Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan alquran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran.

Teori ini sangat mudah untuk dipraktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa sajayang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan Surat An-Nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1- Bacalah ayat pertama 20 kali:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

2- Bacalah ayat kedua 20 kali:

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا

4- Bacalah ayat keempat 20 kali:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhirmenggabungkannya sebanyak 20 kali.

6- Bacalah ayat kelima 20 kali:

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا

7- Bacalah ayat keenam 20 kali:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا

10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali

11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARIBERIKUTNYA?

Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

BAGAIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG(MURAJA’AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?

Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal alquran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua Al Quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karenaitu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah denganmengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambahhafalan baru.

Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tigabagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.

Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah menghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.

Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ)SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?

Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran setiap dua minggu sekali. Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini Selama satu Tahun.

APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR ANSELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam semasa hidupnya, beliau membagi Al Qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; ”Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “Kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)”

(HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat”an-nisa”,

- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “attaubah”,

- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,

- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “alfurqan”,

- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat”yaasin”,

- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “alhujurat”,

- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadikata: ” Fami bisyauqin ( فم ي ب شوق ) “, dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:

- huruf “fa” symbol dari surat “al fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,

- huruf “mim” symbol dari surat “al maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,

- huruf “ya” symbol dari surat “yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,

- huruf “ba” symbol dari surat “bani israil (nama lain dari suratal isra)”, sebagai wirid beliau hari keempat,

- huruf “syin” symbol dari surat “asy syu’ara”, sebagai awal wirid beliau hari kelima,

- huruf “wau” symbol dari surat “wa shafaat”, sebagai awal wirid beliau hari keenam,

- huruf “qaaf” symbol dari surat “qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “an-nas”.

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANGMUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?

Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:

1- Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.

2- Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.

3- Hafalkanlah mulai dari surat An-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.

4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.

5- Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa “tajmi’” (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt,

Akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini.


Al Qawaidul Fiqhiyyah (kaidah-kaidah fiqih) adalah sebuah kitab yang berbentuk nadzham (syair) yang berisi tentang kaidah-kaidah dasar ilmu fiqih. Pengarang kitab nadzham ini adalah seorang ulama terkemuka, Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’diy, lahir pada tahun 1307 H di kota Unaizah, Qasim, wilayah Najd, Kerajaan Saudi Arabia. Syaikh As Sa’dy memiliki banyak karangan diantaranya Taisirul Karimil Mannan fi Tafsir Kalamil Rahman (Kemudahan dari Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi dalam Tafsir Kalam Ilahi), Al-Irsyad ilaa Ma’rifatil Ahkam (Petunjuk untuk memahami hukum-hukum), Ar – Riyadh an-Nadhirah (Taman-taman yang bercahaya), Bahjatu Qulubil Abrar (Kegembiraan hati orang-orang yang bertaqwa), Manhajus Salikin wa Taudhihul Fiqh Fid Diin (Pedoman orang yang beribadah dan pejelasan fiqh dalam agama), dan banyak lagi yang lain. القواعد الفقهية الحَمْدُ للهِ العَلِيِّ الأَرْفَقِ * وَجَامِعِ الأَشْيَاءِ وَ المُفَرِّقِ ذِي النِِّعَمِ الوَاسِعَةِ الغَزِيْرَةْ * وَالحِكَمِ البَاهِرَةِ الكَثِيْرَةْ ثُمَّ الصَّلاَةُ مَعْ سَلاَمٍ دَائِمِ * عَلَى الرَّسُوْلِ القُرَشِيِّ الخَاتَمِ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ الأَبْرَارِ * الحَائِزِيْ مَرَاتِبِ الفَخَارِ اِعْلَمْ هُدِيْتَ أَنَّ أَفْضَلَ الْمِنَنْ * عِلْمٌ يُزِيْلُ الشَّكَّ عَنْكَ وَ الدَّرَنْ وَيَكْشِفُ الْحَقَّ لِذِيْ الْقُلُوْبِ * وَيُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى الْمَطْلُوْبِ فَاحْرِصْ عَلَى فَهْمِكَ لِْلْقَوَاعِدِ * جَامِعَةِ الْمَسَائِلِ الشَّوَارِدِ فَتَرْتَقِيْ فِي الْعِلْمِ خَيْرَ مُرْتَقَا * وَتَقْتَفِيْ سُبْلَ الَّذِيْ قَدْ وُفِقَا وَهَذِهِ قَوَاعِدٌ نَظَمْتُهَا * مِنْ كُتْبِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ حَصَلْتُهَا جَزَاهُمُ الْمَوْلَى عَظِيْمَ الاَجْرِ * وَالْعَفْوَ مَعْ غُفْرَانِهِ وَالْبِرِّ النِّيَّة شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلْ * بِهَا الصَّلاَحُ وَالفَسَادُ لِلْعَمَلْ الدِّيْنُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْمَصَالِحِ * فِيْ جَلْبِهَا وَالدَّرْءِ لِلْقَبَائِحِ فَإِنْ تَزَاحَمْ عَدَدُ الْمَصَالِحِ * يُقَدَّمُ الأَعْلَى مِنَ الْمَصَالِحِ وَضِدُّهُ تَزَاحُمُ الْمَفَاسِدِ * مُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ الْمَفَاسِدِ وَمِنْ قَوَاعِدِ الشَّرِيْعَةِ التَّيْسِيْرُ * فِيْ كُلِّ أَمْرٍ نَابَهُ تَعْسِيْرُ وَلَيْسَ وَاجِبٌ بِلاَ اقْتِدَارِ * وَلاَ مُحَرَّمٌ مَعَ اضْطِرَارِ وَكُلُّ مَحْظُوْرٍ مَعَ الضَّرُوْرَةْ * بِقَدْرِ مَا تَحْتَاجُهُ الضَّرُوْرَةْ وَتَرْجِعُ الأَحْكَامُ لِلْيَقِيْنِ * فَلاَ يُزِيْلُ الشَّكُّ لِلْيَقِيْنِ وَالأَصْلُ فِيْ مِيَاهِنَا الطَّهَارَةْ * وَالأَرْضِ وَالثِّيَابِ وَالحِجَارَةْ وَالأَصْلُ فِيْ الأَبْضَاعِ و اللُّحُوْمِ * وَالنَّفْسِ وَالأَمْوَالِ لِلْمَعْصُوْمِ تَحْرِيْمُهَا حَتَّى يَجِيْئَ الْحِلُّ * فَافْهَمْ هَدَاكَ اللّهُ مَا يُمَلُّ وَالأَصْلُ فِي عَادَتِنَا الإِبَاحَةْ * حَتَّى يَجِيْئَ صَارِفُ الإِبَاحَةْ وَلَيْسَ مَشْرُوْعًا مِنَ الأُمُوْرِ * غَيْرَ الَّذِيْ فِيْ شَرْعِنَا مَذْكُوْرِ وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالْمَقَاصِدِ * واحْكُمْ بِهَذَا الْحُكْمِ للزَّوَائِدِ وَالخَطَأْ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ * أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرّحْمنُ لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ الْبَدَلْ * وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلْ وَمِنْ مَسَائِلِ الأَحْكَامِ فِي التَّبَعْ * يَثْبُتُ لاَ إِذَا اسْتَقَلَّ فَوَقَعْ وَالْعُرْفُ مَعْمُوْلٌ بِهِ إِذَا وَرَدْ * حُكْمٌ مِنَ الشََّرْعِ الشَّرِيْفِ لَمْ يُحَدّْ مُعَاجِلُ الْمَحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ * قَدْ بَاءَ بِالْخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ وَإِنْ أَتَى التَّحْرِيْمُ فِيْ نَفْسِ الْعَمَلْ * أَوْ شَرْطِهِ فَذُوْ فَسَادٍ وَخَلَلْ وَمُتْلِفُ مُؤْذِيْهِ لَيْسَ يَضْمَنُ * بَعْدَ الدِّفَاعِ بِالَّتِيْ هِيَ أحْسَنُ وَأَلْ تُفِيْدُ كُلَّ فِي الْعُمُوْمِ * فِي الْجَمْعِ وَالأِفْرَادِ كَالْعَلِيْمِ وَالنَّكِرَاتُ فِيْ سِيَاقِ النَّفْيِ * تُعْطِي الْعُمُوْمَ أَوْ سِيَاقِ النَّهْيِ كَذَاكَ مَنْ وَمَا تُفِيْدَانِ مَعَا * كُلَّ الْعُمُوْمِ يَا أُخَيَّ فَاسْمَعَا وَمِثْلُهُ المُفْرَدُ إِذْ يُضَافُ * فَافْهَمْ هُدِيْتَ الرُّشْدَ مَا يُضَافُ وَلاَ يَتِمُّ الْحُكْمُ حَتَّى تَجْتَمِعْ * كُلُّ الشُّرُوْطِ وَالْمَوَانِعْ تَرْتَفِعْ وَمَنْ أَتَى بِمَا عَلَيْهِ مِنْ عَمَلْ * قَدْ اسْتَحَقَّ مَا لَهُ عَلَى الْعَمَلْ وَكُلُّ حُكْمٍ دَائِِرٌ مَعْ عِلَّتِهْ * وَهِيَ الَّتِي قَدْ أَوْجَبَتْ لِشِرْعَتِهْ وَكُلُّ شَرْطٍ لاَزِمٌ لِلْعَاقِدِ * في الْبَيْعِ وَالنِّكَاحِ وَالْمَقَاصِدِ إِلاَّ شُرُوْطًا حَلَّلَتْ مُحَرَّمَا * أَوْ عَكْسَهُ فَبَاطِلاَتٌ فَاعْلَمَا تُسْتَعْمَلُ الْقُرْعَةُ عِنْدَ الْمُبْهَمِ * مِنَ الْحُقُوْقِ أَوْ لَدَى التَّزَاحُمِ وَإِنْ تَسَاوَى الْعَمَلاَنِ اجْتَمَعَا * وَفِعْلُ إِحْدَاهُمَا فَاسْتَمِعَا وَكُلُّ مَشْغُوْلٍ فَلاَ يُشَغَّلُ * مِثَالُهُ الْمَرْهُوْنُ وَالْمُسَبَّلُ وَمَنْ يُؤَدِّ عَنْ أَخِيْهِ وَاجِبَا * لَهُ الرُّجُوْعُ إِنْ نَوَى يُطَالِبَا وَالْوَازِعُ الطَّبْعِيّ عَنِ الْعِصْيَانِ * كَالْوَازِعِ الشَّرْعِيّ بِلاَ نُكْرَانِ وَالْحَمْدُ لِلّه عَلَى التَّمَامِ * في الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ وَالدَّوَامِ ثُمَّ الصَّلاَةُ مَعْ سَلاَمٍ شَائِعِ * عَلَى النَّبِيّ وَصَحْبِهِ والتَّابِعِ Kaidah-kaidah Fiqih الحَمْدُ للهِ العَلِيِّ الأَرْفَقِ * وَجَامِعِ الأَشْيَاءِ وَ المُفَرِّقِ Segala puji bagi Allah yang Maha Tinggi dan Maha Lembut .. Pengumpul dan Pemisah segala sesuatu ذِي النِِّعَمِ الوَاسِعَةِ الغَزِيْرَةْ * وَالحِكَمِ البَاهِرَةِ الكَثِيْرَةْ pemilik nikmat yang luas lagi melimpah serta hikmah yang bersinar lagi banyak ثُمَّ الصَّلاَةُ مَعْ سَلاَمٍ دَائِمِ * عَلَى الرَّسُوْلِ القُرَشِيِّ الخَاتَمِ kemudian semoga shalawat serta salam senantiasa atas Rasul penutup dari suku Quraisy وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ الأَبْرَارِ * الحَائِزِيْ مَرَاتِبِ الفَخَارِ atas keluarganya, sahabatnya yang baik yang mencapai tingkatan membanggakan اِعْلَمْ هُدِيْتَ أَنَّ أَفْضَلَ الْمِنَنْ * عِلْمٌ يُزِيْلُ الشَّكَّ عَنْكَ وَ الدَّرَنْ ketahuilah-semoga kamu diberi petunjuk-bahwa sebaik-baik anugerah adalah lmu yang menghilangkan keraguan dan keburukan وَيَكْشِفُ الْحَقَّ لِذِيْ الْقُلُوْبِ * وَيُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى الْمَطْلُوْبِ serta menyingkap kebenaran bagi pemilik hati dan mengantarkan hamba kepada yang dicari فَاحْرِصْ عَلَى فَهْمِكَ لِْلْقَوَاعِدِ * جَامِعَةِ الْمَسَائِلِ الشَّوَارِدِ Maka bersemangatlah dalam mempelajari kaidah-kaidah (fiqh), yang dapat mengumpulkan banyak masalah yg tidak menyatu فَتَرْتَقِيْ فِي الْعِلْمِ خَيْرَ مُرْتَقَا * وَتَقْتَفِيْ سُبْلَ الَّذِيْ قَدْ وُفِقَا Pelajarilah ilmu secara bertahap.. dan ikutilah jalan orang yang benar وَهَذِهِ قَوَاعِدٌ نَظَمْتُهَا * مِنْ كُتْبِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ حَصَلْتُهَا ini adalah kaidah-kaidah yang aku susun dari kitab-kitab ahli ilmu جَزَاهُمُ الْمَوْلَى عَظِيْمَ الاَجْرِ * وَالْعَفْوَ مَعْ غُفْرَانِهِ وَالْبِرِّ Semoga Allah membalas mereka dengan pahala yang besar serta ampunan dan kebaikan Nya النِّيَّة شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلْ * بِهَا الصَّلاَحُ وَالفَسَادُ لِلْعَمَلْ Niat adalah syarat bagi semua amal.. Niat lah penentu baik dan rusak nya amal الدِّيْنُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْمَصَالِحِ * فِيْ جَلْبِهَا وَالدَّرْءِ لِلْقَبَائِحِ Agama ini dibangun atas pengambilan maslahah dan penolakan mafsadah فَإِنْ تَزَاحَمْ عَدَدُ الْمَصَالِحِ * يُقَدَّمُ الأَعْلَى مِنَ الْمَصَالِحِ Apabila beberapa maslahat berbenturan, maka didahulukan yang paling utama maslahatnya وَضِدُّهُ تَزَاحُمُ الْمَفَاسِدِ * مُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ الْمَفَاسِدِ Sebaliknya, Jika beberapa mafsadah bebenturan maka ambillah yang paling kecil kerusakannya وَمِنْ قَوَاعِدِ الشَّرِيْعَةِ التَّيْسِيْرُ * فِيْ كُلِّ أَمْرٍ نَابَهُ تَعْسِيْرُ Diantara kaidah syara’ kita adalah “memudahkan” pada setiap perkara yang terlihat sulit وَلَيْسَ وَاجِبٌ بِلاَ اقْتِدَارِ * وَلاَ مُحَرَّمٌ مَعَ اضْطِرَارِ Bukan lah suatu kewajiban jika tiada kemampuan dan tidak ada yang diharamkan saat darurat وَكُلُّ مَحْظُوْرٍ مَعَ الضَّرُوْرَةْ * بِقَدْرِ مَا تَحْتَاجُهُ الضَّرُوْرَةْ Setiap yang dilarang saat keadaan darurat (diperbolehkan) sekedar memenuhi kebutuhan daruratnya saja وَتَرْجِعُ الأَحْكَامُ لِلْيَقِيْنِ * فَلاَ يُزِيْلُ الشَّكُّ لِلْيَقِيْنِ Hukum itu dikembalikan pada keyakinan maka keraguan tidak dapat menghilangkan keyakinan وَالأَصْلُ فِيْ مِيَاهِنَا الطَّهَارَةْ * وَالأَرْضِ وَالثِّيَابِ وَالحِجَارَةْ Hukum asal air, tanah, pakaian, dan batu adalah suci وَالأَصْلُ فِيْ الأَبْضَاعِ و اللُّحُوْمِ * وَالنَّفْسِ وَالأَمْوَالِ لِلْمَعْصُوْمِ Hukum asal jima’, daging, jiwa, dan harta bagi seorang muslim itu: تَحْرِيْمُهَا حَتَّى يَجِيْئَ الْحِلُّ * فَافْهَمْ هَدَاكَ اللّهُ مَا يُمَلُّ Hukumnya haram sampai datang yang menghalalkannya.. Maka pahamilah.. Semoga Allah memberimu petunjuk pada apa yang diharapkan.. وَالأَصْلُ فِي عَادَتِنَا الإِبَاحَةْ * حَتَّى يَجِيْئَ صَارِفُ الإِبَاحَةْ Hukum asal adat istiadat adalah mubah sampai datang dalil yang merubah hukum mubahnya وَلَيْسَ مَشْرُوْعًا مِنَ الأُمُوْرِ * غَيْرَ الَّذِيْ فِيْ شَرْعِنَا مَذْكُوْرِ Setiap perkara yang dalam syariat tidak disebutkan maka tidak disyariatkan وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالْمَقَاصِدِ * واحْكُمْ بِهَذَا الْحُكْمِ للزَّوَائِدِ Hukum wasilah / jalan menuju sesuatu itu seperti hukum tujuannya.. Ambillah hukum ini untuk tambahan.. وَالخَطَأْ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ * أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرّحْمنُ Salah, terpaksa, dan lupa itu dimaafkan oleh rabb yang kita sembah, Ar Rahman لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ الْبَدَلْ * وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلْ akan tetapi jika disertai pelanggaran (hak manusia), ia wajib menggantinya dan berguguran lah dosa dan kesalahan وَمِنْ مَسَائِلِ الأَحْكَامِ فِي التَّبَعْ * يَثْبُتُ لاَ إِذَا اسْتَقَلَّ فَوَقَعْ Diantara hukum hukum fiqih adalah taba’[1], ia bisa tetap hukumnya (jika diikutkan dengan yang lain), meski hal itu tidak bisa ditetapkan bila berdiri sendiri وَالْعُرْفُ مَعْمُوْلٌ بِهِ إِذَا وَرَدْ * حُكْمٌ مِنَ الشََّرْعِ الشَّرِيْفِ لَمْ يُحَدّْ Urf (kebiasaan setempat) itu (boleh) dipergunakan jika terdapat hukum syariat yang tidak dibatasi مُعَاجِلُ الْمَحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ * قَدْ بَاءَ بِالْخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ Orang yang menyegerakan hal yang dilarang sebelum waktunya itu sungguh memperoleh kerugian serta keharamannya وَإِنْ أَتَى التَّحْرِيْمُ فِيْ نَفْسِ الْعَمَلْ *أَوْ شَرْطِهِ فَذُوْ فَسَادٍ وَخَلَلْ Jika datang pengharaman (syariat) pada suatu amal atau pada syarat nya maka amal itu (pada hakikatnya) rusak dan tercela وَمُتْلِفُ مُؤْذِيْهِ لَيْسَ يَضْمَنُ * بَعْدَ الدِّفَاعِ بِالَّتِيْ هِيَ أحْسَنُ Orang yang merusak sesuatu yg mengganggunya, tidaklah menanggung akibatnya, jika ia telah berusaha menolaknya dengan cara yg lebih bijaksana. وَأَلْ تُفِيْدُ كُلَّ فِي الْعُمُوْمِ * فِي الْجَمْعِ وَالأِفْرَادِ كَالْعَلِيْمِ dan “Al” pada jamak dan mufrad itu memberi faidah keumuman pada segala hal وَالنَّكِرَاتُ فِيْ سِيَاقِ النَّفْيِ * تُعْطِي الْعُمُوْمَ أَوْ سِيَاقِ النَّهْيِ Dan juga nakirah pada kalimat peniadaan dan larangan memberikan makna umum كَذَاكَ مَنْ وَمَا تُفِيْدَانِ مَعَا * كُلَّ الْعُمُوْمِ يَا أُخَيَّ فَاسْمَعَا Begitupula kata “مَنْ (siapa)” dan “ مَا(apa)”, keduanya memberikan makna umum wahai saudaraku.. maka dengarkanlah.. وَمِثْلُهُ المُفْرَدُ إِذْ يُضَافُ * فَافْهَمْ هُدِيْتَ الرُّشْدَ مَا يُضَافُ dan contoh lainnya, kata mufrad jika diidhafahkan.. maka pahamilah semoga kamu diberi petunjuk وَلاَ يَتِمُّ الْحُكْمُ حَتَّى تَجْتَمِعْ * كُلُّ الشُّرُوْطِ وَالْمَوَانِعْ تَرْتَفِعْ Tidak sempurna suatu hukum sampai terpenuhi semua syarat nya dan hilang semua mawani’ (pencegah) nya وَمَنْ أَتَى بِمَا عَلَيْهِ مِنْ عَمَلْ * قَدْ اسْتَحَقَّ مَا لَهُ عَلَى الْعَمَلْ Orang yang memenuhi syarat dari suatu amal, maka ia berhak mendapatkan balasan (pahala) nya وَكُلُّ حُكْمٍ دَائِِرٌ مَعْ عِلَّتِهْ * وَهِيَ الَّتِي قَدْ أَوْجَبَتْ لِشِرْعَتِهْ Setiap hukum itu terkait dengan ‘illat yaitu sesuatu yang mewajibkan syariat suatu hukum وَكُلُّ شَرْطٍ لاَزِمٌ لِلْعَاقِدِ * في الْبَيْعِ وَالنِّكَاحِ وَالْمَقَاصِدِ Setiap syarat yang diajukan oleh pembuat akad dalam jual-beli, pernikahan, dan tujuan lain itu wajib (dipenuhi) إِلاَّ شُرُوْطًا حَلَّلَتْ مُحَرَّمَا * أَوْ عَكْسَهُ فَبَاطِلاَتٌ فَاعْلَمَا Kecuali syarat-syarat yang menghalalkan apa yang haram dan kebalikan nya maka ketahuilah bahwa ini syarat yang bathil تُسْتَعْمَلُ الْقُرْعَةُ عِنْدَ الْمُبْهَمِ * مِنَ الْحُقُوْقِ أَوْ لَدَى التَّزَاحُمِ Undian itu (boleh) digunakan ketika ada hak-hak yang samar atau banyaknya orang وَإِنْ تَسَاوَى الْعَمَلاَنِ اجْتَمَعَا * وَفِعْلُ إِحْدَاهُمَا فَاسْتَمِعَا Jika ada dua amal sejenis yang berkumpul maka cukup sekali dilakukan.. perhatikanlah.. وَكُلُّ مَشْغُوْلٍ فَلاَ يُشَغَّلُ * مِثَالُهُ الْمَرْهُوْنُ وَالْمُسَبَّلُ Setiap hal yang sedang dalam proses tidak boleh diproses contohnya benda yang digadai atau diwakafkan وَمَنْ يُؤَدِّ عَنْ أَخِيْهِ وَاجِبَا * لَهُ الرُّجُوْعُ إِنْ نَوَى يُطَالِبَا Orang yang memiliki kewajiban (hutang) dari saudaranya, maka ia wajib mengembalikkannya jika saudaranya berniat memintanya وَالْوَازِعُ الطَّبْعِيّ عَنِ الْعِصْيَانِ * كَالْوَازِعِ الشَّرْعِيّ بِلاَ نُكْرَانِ Tidak ada yg mengingkari, bahwa dorongan tabiat untuk meninggalkan maksiat Itu seperti dorongan syariat untuk meninggalkannya وَالْحَمْدُ لِلّه عَلَى التَّمَامِ * في الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ وَالدَّوَامِ Segala puji bagi Allah di permulaan dan di penutupan serta setiap saat.. ثُمَّ الصَّلاَةُ مَعْ سَلاَمٍ شَائِعِ * عَلَى النَّبِيّ وَصَحْبِهِ والتَّابِعِ Kemudian shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi, Sahabat, dan Tabi’in [1] taba’: sesuatu yg ada karena mengikuti keberadaan hal lain, bukan sesuatu yg berdiri sendiri


KISI – KISI PENULISAN SOAL UJI KOMPETENSI ULANGAN SEMESTER GANJIL

SMPIT  TAHUN PELAJARAN 2010 – 2011

 

Satuan Pendidikan      :  SMP IT IQRA’                                                                                   Alokasi Waktu  :  120 menit                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Alokasi Waktu: 90 menit

Mata Pelajaran            :  Bahasa Arab                                                                                        Jumlah Soal       :  Pilihan Ganda 50                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jumlah Soal                                                                                                                                                                                                           : Pilihan Ganda 45

Kurikulum                  :  KTSP    DAN JSIT                                                                             Hari ; SABTU 4-12-2010

Kls :8                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Uraian 5 butir soal

Standar Kompetensi (SK)  :

2. Berbicara

Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog sederhana

NO Kompetensi Dasar Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

1

 

 

 

 

 

 

2

Melakukan dialog sederhana tentang تعارف- العمرة – فى البيت

Menyampaikan informasi secara lisan dalam kalimat sederhana tentang:

تعارف- العمرة – فى البيت

 

 

 

VIII / I

 

الحؤار

dalam tema

تعارف- العمرة – فى البيت

- Disajikan dialog dalam tema تعارف- العمرة – فى البيت  
  1. siswa dapat menenyempurnakan dialog dengan kata tunjuk, kata ganti dan kata tanya yang tepat untuk     melengkapinya.

 

 
  1. Siswa dapat menentukan lawan kata

-          Disajikan dalam bentuk gambar

  1. Siswa dapat menentukan kata dan kalimat yang tepat -mufrad/tunggal, mutsanna/dual dan jama’/ plural – untuk gambar tersebut

-          Disajikan dalam bentuk terjamahan

  1. Siswa dapat menerjamahkan bahasa indonesia ke bahasa arab

 

 
 
 
 
 
1,2,3.4.5,6.7

 

 

 

16,17,18,19,20

 

 

 

 

28,29-30

 

 

46,47-48

PG

 

 

 

PG

 

 

 

 

PG

 

 

PG

 

 

 

Standar Kompetensi (SK)

  3. Membaca dan memahmi wacana dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang  تعارف- العمرة – فى البيت
NO KOMPETENSI DASAR Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

3.1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3

Mengidentifikasi kata, frase dan kalimat wacana tertulis sederhana tentang

تعارف- العمرة – فى البيت

 

Menemukan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang

تعارف- العمرة – فى البيت

VIII / 1 قراءة
 

Disajikan teks dengan topik

تعارف- العمرة – فى البيت

- Siswa dapat memilih jawaban yang tepat tentang تعارف- العمرة – فى

البيت

 

-          Siswa menentukan kalimat tanya yang sesuai untuk teks bacaan

-          Siswa dapat menentukan jenis kata kerja didalam teks

-          Siswa dapat mengartikan teks

-          Siswa dapat mengartikan kata dalam teks

8,9,10,11,12,13,14,15

 

31, 33

 

 

 

 

32

34

35

41,42,43,44, 45

PG

 

PG

 

 

 

 

PG

PG

PG

PG

 

 

 

 

 

 

 

 
Standar Kompetensi (SK)

4. Menulis

Mengungkapkan, perasaan, pengalaman dan informasi melalui kegiatan menulis tentang jam   تعارف- العمرة – فى البيت

NO KOMPETENSI DASAR Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

 

 

 

4.1

 

 

 

 

4.2

 

 

 

 

 

 

4.3

 

 

Menulis kata, frase, kalimat sederhana tentang  تعارف- العمرة – فى البيت

Merespon gagasan sederhana dalam bentuk teks tertulis yang berkaitan dengan  تعارف- العمرة – فى البيت

 

Menyampaikan gagasan sederhana dalam bentuk teks tertulis sederhana

VIII / 1 كتابة - Disajikan kalimat yang acak

تعارف- العمرة – فى البيت

-. Siswa dapat menyusun kata menjadi kalimat kata kerja

Disajikan dalam bentuk kalimat yang belum sempurna

-siswa dapat melengkapi kalimat dengan kata yang tepat

-siswa dapat melengkapi kalimat dengan kata ganti milik

Disajikan dalam bentuk tabel

-          Siswa dapat mengisi tabel dengan kata ganti dan kata kerja lampau

 

21,22,23,24,25

 

 

 

26-27

 

 

 

36,37.38,39,40,49,50

PG

 

 

 

 

 

PG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KISI – KISI PENULISAN SOAL UJI KOMPETENSI ULANGAN SEMESTER GANJIL

SMPIT  TAHUN PELAJARAN 2010 – 2011

 

Satuan Pendidikan      :  SMP IT IQRA’                                                                                   Alokasi Waktu  :  120 menit                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Alokasi Waktu: 90 menit

Mata Pelajaran            :  Bahasa Arab                                                                                        Jumlah Soal       :  Pilihan Ganda 50                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Jumlah Soal                                                                                                                                                                                                           : Pilihan Ganda 45

Kurikulum                  :  KTSP    DAN JSIT                                                                             Hari ; SABTU 4-12-2010

Kelas: 9                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Uraian 5 butir soal

Standar Kompetensi (SK)  :

2. Berbicara

Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog sederhana

Kompetensi Dasar Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

Melakukan dialog sederhana tentang – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة

Menyampaikan informasi secara lisan dalam kalimat sederhana tentang tema diatas

 

 

VIII / I

 

الحؤار

dalam tema – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

1. Disajikan dialog dalam melengkapi kalimat

- فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

 
- siswa dapat menenyempurnakan dialog dengan kata tunjuk, kata ganti dan kata tanya yang tepat untuk     melengkapinya.

 

 
  1. Disajikan dalam tejamahan ke bahasa arab

-          Siswa dapat membahasa arbkan teks

  1. Disajikan dalam bentuk lawan kata

-          Siswa mampu menentukan lawan kata

4. Disajikan dalam bentuk identifikasi jenis kata kerja

- siswa dapat menentukan jenis kata kerja

-

 

 
 
 
 
 
1,2,3,4,5

 

 

 

 

 

 

 

32,33,34,35,36

 

 

16,17,18,19,20

 

41,42,43,44,45

 

PG

 

 

 

PG

 

 

 

 

PG

 

 

PG

 

 

Standar Kompetensi (SK)

3. Membaca dan memahmi wacana dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang  – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

NO KOMPETENSI DASAR Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

3.1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menemukan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang

- فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

VIII / 1 قراءة
  1. Disajikan dalam bentuk teks

-          Siswa dapat mengartikan kata dalam teks

-          Siswa dapat menetukan kata tanya yang tepat

-          Siswa dapat menjawab pertanya dari teks

6,7,8,9,10,26,37,

38,39,40

 

21,

22,23,24,25

PG

 

PG

 

 

 

 

PG

PG

PG

PG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standar Kompetensi (SK)

4. Menulis

Mengungkapkan, perasaan, pengalaman dan informasi melalui kegiatan menulis tentang jam   – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

NO KOMPETENSI DASAR Kls./

Smt.

Materi Isi

Indikator

No.

Soal

Bentuk

Soal

 

 

 

4.1

 

 

 

 

4.2

 

 

 

 

 

 

4.3

 

 

Menulis kata, frase, kalimat sederhana tentang  – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

Merespon gagasan sederhana dalam bentuk teks tertulis yang berkaitan dengan  – فى الصف-الطعام- العطلة – فى المدرسة- الجو

 

Menyampaikan gagasan sederhana dalam bentuk teks tertulis sederhana

VIII / 1 كتابة
  1. Disajikan dalam bentuk kalimat belum sempurna

-          Siswa dapat menyempurnakan teks dengan   kata yang sesuai

  1. Disajikan dalam bentuk kalimat yang acak

-siswa dapat menyusun kata jadi kalimat kata kerja

3. disajikan dalam bentuk isian tabel

- siswa dapat mengisi tabel dengan kata ganti dan kata kerja yang sesuai

11,12,13,14,15

 

 

 

 

27,28,29,30,31

 

 

 

46,47,48,49,50

PG

 

 

 

 

 

PG

 

 


Dakwah adalah ajakan seorang Muslim kepada orang lain, baik sesama Muslim maupun non-Muslim, untuk mengikuti perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana firman-Nya,
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S. An-Nahl: 125).
Dakwah adalah sesuatu yang melekat pada diri Muslim sehingga tidak ada alasan sedikit pun bagi seseorang, yang bahkan hanya memiliki sedikit pengetahuan yang benar dan bermanfaat, untuk menghindar dari tugas-tugas dakwah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “ Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (H.R Bukhari).
Dakwah dapat dilakukan dengan lisan, tulisan, perbuatan, atau sikap keteladanan. Dakwah juga dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok, melalui organisasi sosial, partai politik, dan organisasi negara. Dakwah dapat dilakukan kepada keluarga sendiri, orang-orang di dalam negeri, di luar negeri, dan yang terpenting terhadap diri sendiri. Sedemikian luasnya arti komitmen kepada dakwah, sampai-sampai Rasulullah SAW merumuskan esensi Islam dari aspek ini. Sabdanya, “ Agama adalah nasihat.” Ibnu Aus dan para sahabat bertanya, “ Bagi siapa ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW, “ Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemuka muslimin serta rakyat mereka.” (H.R Muslim). Jabir bin Abdullah RA berkata, “ Aku berbaiat kepada Rasulullah SAWuntuk
tetap shalat, membayar zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam.” (H.R Bukhari dan Muslim).
Pahala orang berdakwah demikian besarnya dan tak dapat ditimbang dengan ukuran-ukuran material sehingga yang menjadi ukuran keberhasilan dakwah adalah upayanya itu sendiri serta hidayah orang-orang yang mau menerimanya. Berjihad adalah dakwah, tetapi berjihad bukanlah untuk mengharapkan ghanimah, meski pengorbanan harta telah demikian besar dikeluarkan. Ali bin Abi Thalib RA yang diamanahi memimpin Perang Khaibar ketika menerima panji-panji bertanya kepada Rasulullah SAW, “ Ya, apakah mereka langsung diperangi sampai mau (masuk Islam) seperti kami?”
Rasulullah SAW bersabda, “ Berlaku tenanglah sampai di kawasan mereka, lalu dakwahilah
mereka kepada Islam dan kabarkanlah kepada mereka hal-hal yang wajib mereka lakukan atas hakhak
Allah. Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewat dakwahmu, maka yang demikian itu lebih baik bagimu, melebihi hasil ghanimah besar yang terdiri dari hewan ternak terbaik.” (H.R Bukhari dan Muslim).
2.Perubahan ke arah perbaikan: Esensi hasil dakwah
Perubahan adalah tema utama dari proses yang dikelola dalam kerja-kerja dakwah, sebagaimana firman Allah SWT,

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11). Perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat atau negara tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada individu-individu, sehingga dakwah Islam adalah dakwah yang ditujukan kepada hati-hati dari individu itu.
Tidak sekadar perubahan-perubahan yang bersifat permukaan, sedangkan inti di dalamnya tidakterjadi perubahan apa pun. Perubahan yang hakiki itulah yang dicari dalam dakwah Islam.  Kedatangan Ali bin Abi Thalib RA ke Khaibar bukanlah sekadar untuk mengubah agama mereka sehingga mereka memeluk agama Islam dengan terpaksa dan penuh ketakutan. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan lebih dahulu untuk memberikan pengertian kepada mereka sehingga perubahan yang hakiki diharapkan terjadi.
Perubahan yang semu bukanlah sebuah fenomena yang menjadi target dalam dakwah,
sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya, Orang-orang Arab badwi itu berkata, “ Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “ Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ karena iman itu belum lagi masuk ke dalam hati
kamu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 14).
Dalam kaitan mengukur terjadinya perubahan ini, agar tidak terjebak ke dalam fatamorgana perubahan, seorang dai harus sungguh-sungguh memiliki pengetahuan tentang indikator-indikator perubahan yang benar. Dengan bekal ini ia tidak akan merasa puas dengan hasil dakwah yang sesungguhnya masih jauh dari selesai dan dia tidak akan beristirahat karena menganggap tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan dakwah yang harus dilakukannya, padahal sebenarnya ia belum melakukan
sesuatu yang fundamental.
Inilah yang terjadi pada para sahabat Anshar ketika setelah mengikuti serangkaian perang yang
panjang bersama Rasulullah SAW dan agama Islam telah tersebar kemana-mana, mereka berkata,
“ Alhamdulillah, kami telah dimuliakan Allah dengan Islam dan bersahabat dengan Nabi-Nya serta
membelanya sehingga tersebar dan banyak pengikutnya. Sedangkan kami telah lama meninggalkan
sawah ladang kami dan kini peperangan telah selesai, maka lebih baik kami kembali mengurus kebun
ladang kami dan tinggal bersama keluarga kami.” Maka turunlah ayat 195 Surat Al-Baqarah, “ Dan
berinfaklah kalian di jalan Allah dan janganlah menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan. Dan
berbuat baiklah kalian, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (HR Abu
Daud, Tirmidzi, dan An-Nasai).
Ayat itu seolah-olah ingin menegaskan kembali pemahaman orang-orang Anshar, “Wahai
orang-orang Anshar, memang kalian telah begitu banyak berkorban harta dan jiwa demi perjuangan
Islam. Memang peperangan-peperangan kini telah bertukar haluan dengan kemenangan-kemenangan
yang diraih. Memang telah begitu banyak manusia yang dengan sukarela atau terpaksa memasuki
agama Islam ini. Memang untuk semua itu kalian telah meninggalkan sawah ladang dan keluarga
3
kalian. Tetapi ingat, semua itu bukanlah ukuran-ukuran keberhasilan yang hakiki yang menandakan
perjuangan dakwah telah selesai karena misi yang lebih besar telah menanti di hadapan kalian.
Dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini, maka adalah keliru jika ada yang beranggapan
bahwa dengan jatuhnya Soeharto dan rezim Orde Baru maka kondisinya berarti telah berubah secara
hakiki. Jangankan dikaitkan dengan tujuan-tujuan dakwah Islam yang begitu tinggi, dikaitkan dengan
proyek reformasi saja umumnya pengamat berpendapat hanya sedikit perubahan yang telah terjadi.
Jiwa-jiwa yang korup dan otoriter masih bergentayangan di berbagai tubuh manusia dan
organisasi yang hidup pasca 21 Mei 1998. Bahkan, tokoh-tokoh baru yang muncul pada masa ini, baik
di kalangan pemerintahan maupun legislatif, justru tidak sedikit yang malah ketularan virus Orde Baru
sehingga tingkat korupsi Indonesia justru semakin parah di tingkat dunia dibandingkan zaman Orde
Baru dahulu. Sungguh, perjalanan dakwah di Indonesia masih panjang dan barangkali kita baru
bergerak belum setengah langkah pun.
Stagnasi : ciri kelemahan iman
Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah
kemunkaran itu dengan tanganmu. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak
mampu juga maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim, An-Nasai,
Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sabda Rasulullah SAW tersebut jelas memberikan salah satu ciri
tentang kekuatan iman kaum muslimin, baik sebagai individu maupun sebagai umat, yakni pada
keinginan dan kemampuannya untuk melakukan sebuah perubahan. Orang Muslim yang perasaannya
tidak senang melihat kemunkaran tetapi hanya mampu menonton kemunkaran tersebut tanpa
melakukan langkah apa pun, maka ia dijuluki orang yang selemah-lemah iman.
Hadits di atas juga menunjukkan bahwa pada dasarnya perubahan harus dilakukan dalam situasi
tujuan-tujuan dakwah pada suatu tahapan belum tercapai. Adapun mengenai cara-cara yang dilakukan
dalam proses perubahan itu pada akhirnya disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang menyertainya
dalam kaitan kemampuan maupun tahapan-tahapan dakwah yang sedang dilakukannya. Dalam kaitan
inilah kita berurusan dengan sebuah fenomena dakwah: dakwah dengan hati. Sebuah fenomena
kelemahan iman!
Mengapa kemampuan dihubungkan dengan iman? Karena sesungguhnya keimananlah yang
menjadi motivator utama perubahan pada diri seseorang. Keimanan yang kuat akan melahirkan
keyakinan, semangat, kesungguh-sungguhan, dan ketekunan dalam berdakwah. Memang Rasulullah
SAW pada periode Makkiyah hanya dapat menatap sedih Bilal yang tengah disiksa orang-orang kafir
atau Ammar bin Yasir yang menyerah lantaran kedua orang tuanya disiksa dengan bengis. Tetapi ini
bukan cerminan kelemahan iman karena keimanan Rasulullah SAW demikian kuat, demikian pula para
sahabat beliau. Kekuatan iman itu tengah bekerja dan terus bekerja yang secara bertahap menghasilkan
kekuatan demi kekuatan sehingga pada akhirnya tak terkalahkan lagi oleh orang-orang kafir Quraisy.
Iman yang lemah tidak akan memproses kekuatan apa pun, dan jika pun memproses kekuatan
maka hanya sebuah percikan kecil yang sangat lambat berkembang menjadi kobaran api kekuatan. Kita akan menyaksikan orang-orang yang lemah imannya maka tahapan perjuangannya akan terusmenerus melalui hati dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, tanpa ada kemajuan apapun. Bahkan, ia tidak memiliki perencanaan dan kemauan apapun untuk mengubahnya menjadi dakwah dengan lisan atau dengan tangannya. Inilah stagnasi iman yang apabila terjadi akan
menyebabkan terjadinya stagnasi perubahan pada diri dan lingkungan kaum muslimin.
Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa mati dalam keadaan tidak pernah berperang
(berjuang) atau tidak pernah meniatkan pada dirinya sendiri (untuk berperang/berjuang) maka dia mati di atas satu cabang kemunafikan.” (H.R Muslim, An-Nasai dan Abu Daud). Jika niat untuk melakukan perubahan saja tidak ada niscaya orang seperti itu hanya akan menjadi penonton atas
berbagai fenomena kezhaliman di sekitarnya. Dan diamnya tidak saja sekadar menunjukkan kelemahan
iman, bahkan mungkin menunjukkan ketiadaan iman sama sekali.
4. Keadaan mereka seperti yang digambarkan Al-Qur’an, “ Orang-orang Badwi yang tertinggal
(tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan,

“ Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan bagi kami.”
Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya


Al-Qur’an Sebagai Bekal dan Tuntunan Perjuangan Da’wahAllah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Di samping itu Dia juga memberikan bekal kepada manusia dengan bekal yang memandunya supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Quran Al-Karim. Al-Quran adalah pedoman hidup manusia dalam mengarungi tugas kekhalifahannya di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Namun demikian, yang mampu mengambilnya sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa (lihat Q.S. 2/Al-Baqarah : 2). Asy-Syahid Hasan Al-Banna pernah mengungkapkan bahwa sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah SWT ibarat manusia yang diliputi dengan kegelapan dari segala penjuru. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur’an, cahaya sempurna.(Hadits Tsulatsa/23-24) “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. 26/Asy-Syu’araa: 52) Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan Al-Qur’an sebagai ruh yang berfungsi menggerakkan sesuatu yang mati, mencairkan kejumudan, dan membangkitkan kembali semangat umat sehingga ia bisa menunaikan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-baiknya. Ikhwah fillah Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang berinteraksi dengan Al-Quran akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebabsebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. 21/ Al-Anbiyaa: 10) Interaksi ini harusnya dilakukan secara utuh baik secara tilawatan (menguasai cara membacanya sesuai dengan kaidah tajwid dan mampu membacanya di waktu siang maupun malam), fahman (memahami kandungan ayat-ayat yang dibaca), amalan (kemampuan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan/membumikan Al-Qur’an) maupun hifzhan (kemampuan menghafalkan ayat-demi ayat Al- Qur’an). Itulah empat bentuk interaksi yang diinginkan Al-Qur’an kepada setiap Muslim. Ikhwah fillah Agar bisa berinteraksi kembali dengan Al-Qur’an, maka perlu disadarkan kembali kewajibankewajiban kita di hadapan Al-Qur’an. Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan beberapa kewajiban Muslim terkait dengan Al-Qur’an yaitu : 1. Seorang Muslim harus memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an pasti akan menuai kegagalan. 2. Kaum Muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum salaf. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al- Qur’anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu. Sunnah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” 3. Ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya. Demikian pula saat kita mendengarkan Al-Qur’an harus memperhatikan adab-adabnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. 4. Setelah kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya, baik dalam tingkatan individu maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته – َأُقولُ قَولِي هذَا وأَستغفِروا اللهَ لِي ولَ ُ كمAl-Qur’an Sebagai Bekal dan Tuntunan Perjuangan Da’wah السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد: Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Di samping itu Dia juga memberikan bekal kepada manusia dengan bekal yang memandunya supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Quran Al-Karim. Al-Quran adalah pedoman hidup manusia dalam mengarungi tugas kekhalifahannya di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Namun demikian, yang mampu mengambilnya sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa (lihat Q.S. 2/Al-Baqarah : 2). Asy-Syahid Hasan Al-Banna pernah mengungkapkan bahwa sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah SWT ibarat manusia yang diliputi dengan kegelapan dari segala penjuru. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur’an, cahaya sempurna.(Hadits Tsulatsa/23-24) “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. 26/Asy-Syu’araa: 52) Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan Al-Qur’an sebagai ruh yang berfungsi menggerakkan sesuatu yang mati, mencairkan kejumudan, dan membangkitkan kembali semangat umat sehingga ia bisa menunaikan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-baiknya. Ikhwah fillah Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang berinteraksi dengan Al-Quran akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebabsebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. 21/ Al-Anbiyaa: 10) Interaksi ini harusnya dilakukan secara utuh baik secara tilawatan (menguasai cara membacanya sesuai dengan kaidah tajwid dan mampu membacanya di waktu siang maupun malam), fahman (memahami kandungan ayat-ayat yang dibaca), amalan (kemampuan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan/membumikan Al-Qur’an) maupun hifzhan (kemampuan menghafalkan ayat-demi ayat Al- Qur’an). Itulah empat bentuk interaksi yang diinginkan Al-Qur’an kepada setiap Muslim. Ikhwah fillah Agar bisa berinteraksi kembali dengan Al-Qur’an, maka perlu disadarkan kembali kewajibankewajiban kita di hadapan Al-Qur’an. Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan beberapa kewajiban Muslim terkait dengan Al-Qur’an yaitu : 1. Seorang Muslim harus memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an pasti akan menuai kegagalan. 2. Kaum Muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum salaf. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al- Qur’anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu. Sunnah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” 3. Ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya. Demikian pula saat kita mendengarkan Al-Qur’an harus memperhatikan adab-adabnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. 4. Setelah kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya, baik dalam tingkatan individu maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته – َأُقولُ قَولِي هذَا وأَستغفِروا اللهَ لِي ولَ ُ كمAl-Qur’an Sebagai Bekal dan Tuntunan Perjuangan Da’wah السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد: Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Di samping itu Dia juga memberikan bekal kepada manusia dengan bekal yang memandunya supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Quran Al-Karim. Al-Quran adalah pedoman hidup manusia dalam mengarungi tugas kekhalifahannya di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Namun demikian, yang mampu mengambilnya sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa (lihat Q.S. 2/Al-Baqarah : 2). Asy-Syahid Hasan Al-Banna pernah mengungkapkan bahwa sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah SWT ibarat manusia yang diliputi dengan kegelapan dari segala penjuru. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur’an, cahaya sempurna.(Hadits Tsulatsa/23-24) “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. 26/Asy-Syu’araa: 52) Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan Al-Qur’an sebagai ruh yang berfungsi menggerakkan sesuatu yang mati, mencairkan kejumudan, dan membangkitkan kembali semangat umat sehingga ia bisa menunaikan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-baiknya. Ikhwah fillah Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang berinteraksi dengan Al-Quran akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebabsebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. 21/ Al-Anbiyaa: 10) Interaksi ini harusnya dilakukan secara utuh baik secara tilawatan (menguasai cara membacanya sesuai dengan kaidah tajwid dan mampu membacanya di waktu siang maupun malam), fahman (memahami kandungan ayat-ayat yang dibaca), amalan (kemampuan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan/membumikan Al-Qur’an) maupun hifzhan (kemampuan menghafalkan ayat-demi ayat Al- Qur’an). Itulah empat bentuk interaksi yang diinginkan Al-Qur’an kepada setiap Muslim. Ikhwah fillah Agar bisa berinteraksi kembali dengan Al-Qur’an, maka perlu disadarkan kembali kewajibankewajiban kita di hadapan Al-Qur’an. Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan beberapa kewajiban Muslim terkait dengan Al-Qur’an yaitu : 1. Seorang Muslim harus memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an pasti akan menuai kegagalan. 2. Kaum Muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum salaf. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al- Qur’anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu. Sunnah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” 3. Ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya. Demikian pula saat kita mendengarkan Al-Qur’an harus memperhatikan adab-adabnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. 4. Setelah kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya, baik dalam tingkatan individu maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa.


Menggunakan konteks untuk memaknai teks melalui proses rekonstruksi imajiner merupakan pintu yang membuka peluang pemaknaan yang luas. Dari sini lahir unsur analogi ketika teks akan dimaknai kembali pada konteks yang lain. Yaitu upaya menurunkan teks ke dalam dua atau tiga atau lebih konteks yang berbeda. Sebab walaupun sejarah kehidupan Rasulullah SAW merupakan konteks yang legitimate untuk memaknai teks secara akurat, tetap saja teks itu independen dan berdiri sendiri serta harus bisa menembus semua sekat ruang dan waktu.

Independensi teks itu perlu ditegaskan kembali. Karena itu terkait dengan doktrin tentang keabadian teks yang mengharuskannya terbebas dari kekhususan masa tertentu atau ruang tertentu atau apa yang kita sebut sebagai konteks. Jadi dalam kerangka pemaknaan itu konteks adalah salah satu alat bantu yang dapat mengikat makna tertentu pada teks tapi tidak membatasinya sampai di situ. Itu yang menjelaskan mengapa ruang pemaknaan menjadi lebih luas dan memungkinkan munculnya kebenaran dalam banyak wajah.

Ruang pemaknaan yang luas bukan saja lahir dari fakta bahwa konteks bukanlah alat bantu tunggal dalam memaknai teks, tapi juga lahir dari fakta bahwa teks itu sendiri mempunyai kemampuan menampung beragam makna atas dirinya sendiri. Dan semua makna itu menjadi benar karena berada dalam lingkaran ruang pemaknaan yang telah disediakan oleh teksnya sendiri. Ini juga ikut membenarkan mengapa kebenaran itu bisa muncul dalam wajah yang banyak dan beragam.

Dalam wajah kebenaran yang beragam itu kita dapat memahami kecenderungan sebagian ulama untuk memaknai teks dengan menggunakan akal murni sebagai salah satu alat bantu atau apa yang mereka sebut sebagai at tafsir bid diroyah. Inilah misalnya yang dilakukan oleh Al Zamakhsyari atau Abu Hayyan Al Tauhidi.

Di sini kita menemukan fakta bagaimana teks dan rasio bertemu secara harmonis. Pertemuan itulah yang menjelaskan mengapa orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu (al rosikhuun fil ‘ilm), selalu memiliki kelapangan dada yang luar biasa pada waktu yang sama. Teks, rasio dan imajinasi semuanya menjadi alat bantu yang efektif untuk menemukan kebenaran dalam berbagai wajahnya. Itu menjadi mungkin karena ia dikelola dalam bingkai sikap jiwa yang rendah hati menerima kebenaran dan kesiapan melaksanakannya dalam kenyataan. Dengan sikap jiwa begitu mereka berburu makna-makna kebenaran tanpa dihantui oleh keharusan memenangkan satu makna atas makna yang lain. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 237]


HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang sampai sekarang merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan mematikan, bahkan menempati urutan keempat penyakit mematikan. Menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali tahun 1986 di Bali. Departemen Kesehatan RI memperkirakan, 19 juta orang saat ini berada pada risiko terinfeksi HIV. Adapun berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.Adapun berdasarkan cara penularan, 75 hingga 85 persen HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan seks, 5-10 persen melalui homoseksual, 5-10 persen akibat alat suntik yang tercemar terutama pengguna narkoba jarum suntik dan 3-5 persen tertular lewat transfusi darah.
Berbagai penelitian dan pencegahan telah banyak dilakukan. Namun, penyakit ini bahkan semakin meningkat. Jika kita lihat di kota-kota besar bahkan di daerah memiliki angka yang tinggi terhadap angka penderita HIV/AIDS. Berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan dari 148 negara yang tergabung dalam WHO untuk Program Pencegahan AIDS pada 1 Desember 1988 di London, Inggris. Disinilah bermulanya peringatan HIV/AIDS sedunia yang selalu diperingati pada tanggal 1 Desember. Di seluruh dunia selalu memperingati hari AIDS, baik negara bahkan kota-kota besar dan juga daerah-daerah selalu memperingatinya.
Di antara program yang masuk dalam area pencegahan pada Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS adalah: Kondomisasi, Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah koordinasi KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional). Inilah langkah yang selama ini ditempuh oleh pemerintah, hal ini dianggap sebagai upaya tepat dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS.
Kondomisasi jelas telah gagal mencegah penyebaran HIV/AIDS, namun malah menumbuhsuburkan wabah penyakit HIV/AIDS. Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (US:CDC: United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat no. 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.
Adapun pemberian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba jarum suntik agar terhindar dari penularan HIV/AIDS juga merupakan strategi yang sangat tidak jelas. Memberikan jarum suntik meskipun steril, di tengah-tengah jeratan mafia narkoba sama saja menjerumuskan anggota masyarakat kepada penyalahgunaan narkoba. Apalagi para pengguna narkoba ini tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas akibat kehilangan kontrol, meskipun mereka telah menggunakan jarum suntik steril.
Semuanya terjadi karena berawal dari budaya pergaulan bebas dan perilaku menyimpang. Inilah yang terjadi ketika manusia bebas melakukan apapun, tidak ada aturan berarti yang bias mengikat. Ini terjadi ketika hukum Islam yang berasal dari Allah itu dicamppakkan dan ditinggalkan. Dan hukum manusialah yang digunakan, dimana seorang manusia pada hakikatnya lemah, terbatas, dan tergantung. Maka walaupun berbagai pencegah dilakukan dengan pembagian kondom, jarum suntik, dan berbagai kampanye tentang bahaya AIDS ini tidak akan mampu mencegah, karena ini terkait sistem yang diterapkan dan dilaksanakan dalam suatu negara.
Allah SWT, yang melarang seks bebas (perzinaan), kemaksiatan dan penggunaan khamr (termasuk narkoba). Tentang larangan zina, Allah SWT berfirman:”Janganlah kalian mendekati zina karena zina itu perilaku keji dan jalan yang amat buruk “(QS al-Isra’ [17]: 32).
Allah SWT juga memberlakukan hukuman yang amat keras bagi pelaku zina, yakni hukuman cambuk (Lihat: QS an-Nur [24]: 2). Nabi saw. bahkan memberlakukan hukuman rajam sampai mati atas pezina yang pernah menikah. Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Selain memang barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif dalam penyebarluasan HIV/AIDS.
Ketika hukum manusia yang berlaku maka hukum peradilan dapat dibeli dengan uang dan kekuasaan, bahkan hukum yang diterapkan membuat pelakunya nyaman dengan kondisi bui tempat mereka ditahan. Hukum sekarang yang diterapkan berakar dari system sekuler kapitalis, dimana agama dipisahkan dari kehidupan dan ditampikkan keberadaannya.
Maka berpikir tentang perubahan, maka yang harus dilakukan adalah mengganti sistem negara dengan sistem Islam dalam naungan Khilafah. Karena masalah yang ada di negeri ini tidak hanya AIDS tetapi lebih dari itu politik, ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya juga dalam kondisi terpuruk. Sistem Islam telah terbukti berhasil mensejahterakan umat. Karena jika kita yakin Allah sebagai Pencipta maka kita juga akan yakin dan wajib meyekini Allah sebagai Pengatur.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.